Home Page
Beranda > Perpustakaan > Renungan >

Alfa dan Omega

Tuhan adalah pribadi yang sangat aktif. Ia dapat menggunakan segala cara dan hikmat-Nya untuk menyelamatkan manusia dari cengkraman Iblis yang mau membinasakan mereka. Namun demikian semua terpulang lagi kerpada manusianya. Ia mau memberi diri untuk dilepaskan dari ikatan dunia dan Iblis, atau ia memilih untuk tetap hidup dalam persekutuan dengan kerajaan kegelapan. Kedatangan kerajaan surga mengisyaratkan manusia untuk memilih dipihak mana dia berdiri dan untuk siapa dia hidup. Kita tidak boleh dininabobokan oleh Iblis sehingga menjadi plin-plan akan posisi kita di hadapan Tuhan. Di pihak Tuhan atau melawan Tuhan, menerima Tuhan atau menolak-Nya.

Pada prinsipnya, orang-orang Farisi dan Ahli Taurat menolak Yesus walaupun mereka memiliki segudang alasan untuk membenarkan sikap mereka tersebut. Mereka mengemukakan berbagai argumentasi untuk mempersalahkan dan menolak-Nya. Alasan-alasan yang mereka berikan tidak ada satupun yang benar. Karena sesungguhnya tidak ada satupun manusia yang keberatan untuk hidup bersungguh-sungguh di dalam Tuhan. Mereka selalu mengunakan akar pikiran mereka sebagai alasan untuk menolak hidup sungguh-sungguh di dalam kebenaran Tuhan. Alasan-alasan itu hanya dapat membuat seorang berpikir bahwa Tuhan akan memaklumi dirinya jika ia berbuat dosa kecil-kecilan. Padahal Tuhan Yesus tidak akan pernah menerima alasan apapun juga yang dapat membuat manusia jadi kurang bersungguh-sungguh untuk hidup di dalam-Nya.

Saat ini banyak orang Kristen yang bersikap seperti orang-orang Farisi tersebut. Mereka sering menolak dengan berbagai macam alasan ketika Tuhan memanggil mereka untuk hidup di dalam kebenaran. Mereka tidak menyadari bahwa alasan-alasan yang mereka kemukakan itu dapat mem-binasakan diri mereka sendiri.

Mengapa demikian? Karena Tuhan Yesus pernah berkata bahwa lebih baik kita tidak pernah mengenal kebenaran daripada kita mengenalnya tetapi tidak mau menurutinya.