Bersikap seperti Kristus Bersikap
Tanpa kita sadari sering kita berpikir bahwa perintah-perintah Tuhan dalam Alkitab tidak masuk akal, sukar dimengerti dan sukar diterima oleh pikiran dan nalar kita sebagai manusia.. Kita menganggap bahwa perintah-perintah Tuhan tersebut berlebihan, keterlaluan, dan hanya sekedar menghiasi halaman Alkitab. Seiring berjalannya waktu akhirnya kita merasa tidak terpanggil untuk melakukannya. Bahkan kadang kita berpikir bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki bagian menjadi pelaku Firman Tuhan tersebut secara penuh. Namun demikian harus dicamkan bahwa Allah tidak pernah memberi perintah yang tidak dapat kita lakukan. Jangan pernah sekalipun kita mencurigai Allah .
Dalam surat Filipi 2:5 Tuhan menghendaki agar kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus dalam hidup berjemaat dan berkeluarga. Kata pikiran dan perasaan ini dalam teks aslinya phroneisto, yang didalam terjemahan lain diterjemahkan sebagai attitude, dan dalam bahasa Indonesia berarti sikap. Pikiran dan perasaan Kristus itu diterjemahkan dalam hidup Yesus secara kongkrit dalam bentuk sikap yang taat kepada Bapa dan rela merendahkan diri serendah-rendahnya untuk kepentingan orang lain. Ini adalah hal yang sangat berbeda dengan kebiasaan hidup manusia pada umumnya. Manusia pada umumnya memiliki kecenderungan ingin selalu memerintah, sok berkuasa, ingin dihormati, disanjung, dipuji, dll.
Sebagai anak Tuhan kita memiliki panggilan untuk memiliki sikap seperti kristus; yaitu sikap yang lahir dari hidup yang diserahkan kepada Tuhan untuk menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah bagi kepentingan-Nya. Sikap yang dapat menjadi berkat dan tidak menjadi beban bagi orang lain. Kehidupan Tuhan Yesus yang sedemikian indah yang telah dipecahkan dan dihancurkan untuk kepentingan kita, hendaknya bukan hanya untuk dikagumi tetapi diteladani.
Kita harus memandang hal ini bukan sebagai beban, tetapi sebagai suatu anugerah yang luar biasa. Anugerah yang memanggil kita untuk memperoleh kemuliaan abadi yang melebihi segala kemuliaan yang dapat kita peroleh dalam dunia ini. Tuhan Yesus rela untuk merendahkan diri serendah-rendahnya, karena itulah Ia dimuliakan (Fil 2:9-10). Begitu pula dengan kita, jika kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus untuk bersikap sebagaimana kristus bersikap, maka hal itu akan mendatangkan kemuliaan bersama dengan Kristus. Dengan panggilan seperti ini, sesungguhnya Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk dapat memerintah bersama Dia dalam kehidupan yang akan datang nanti.
Lalu sekarang bagaimana dengan saudara? Apakah saudara ingin belajar bagaimana menyikapi hidup ini sebagaimana Tuhan Yesus bersikap? Jika saudara mau memiliki sikap seperti Kristus, itu berarti saudara harus rela untuk melakukan penyangkalan diri yang paling menyakitkan. Mengapa demikian? Karena kita harus melawan arus bukan saja arus di luar tetapi juga arus di dalam. Arus di luar maksudnya adalah kita melawan pola hidup manusia pada umumnya. Arus di dalam berarti kita melawan diri kita sendiri yang memiliki kecenderungan melawan Allah dan hukumNya. Dalam hal ini kita dipanggil untuk menyangkal diri (Mat 16:24). Kita harus mati bagi diri kita sendiri.








