Artikel


Awali Tahun Baru dengan komitmen untuk menyenangkan hati Tuhan. Apa artinya menyenangkan hati Tuhan? Apakah kita menyenangkan hati Tuhan dengan beribadah di gereja, menyanyikan puji-pujian dan memberikan persembahan? Atau yang lain? Temukan jawabannya dalam khotbah ini.

Bagian 1:

Bagian 2:

Video Khotbah Pdt. Dr. Erastus Sabdono.

Bagian 1

Setiap kita pasti mengalami persoalan-persoalan hidup yang membuat hidup kita terasa sukar. Pada saat-saat seperti itu kita pasti menantikan datangnya pertolongan Tuhan. Masalahnya adalah bagaimana kita menunggu dan mengalami pertolongan Tuhan itu? Ketika kita ada dalam satu persoalan hidup yang berat, yang harus kita percayai adalah pribadi Allah yang tidak mungkin membiarkan kita menghadapi cobaan yang melebihi kekuatan kita. Namun kadang kita menjadi lemah dan putus asa ketika persoalan itu menjadi semakin berat, sementara kita berdoa tak kunjung datang pertolongan-Nya.

Tuhan Yesus adalah pribadi yang harus dan patut kita teladani. Dalam Yohanes 12:24 kita menemukan rahasia kehidupan yang berbuah. Kehidupan yang menjadi berkat bagi orang lain. Biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati merupakan kiasan dari kenyataan hidup Yesus yang dikorbankan di atas kayu salib yang oleh karenaNya dunia diselamatkan. Dari kenyataan ini kita dapat menimba kebenaran: Bahwa sebagaimana Yesus telah mengorbankan diri mati dan menjadi berkat bagi orang lain, maka nafas kebenaran ini juga kita miliki yaitu: Rela mati untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Dalam Efesus 5:15-19 kita dinasehati untuk tidak menjadi bodoh. kata bodoh disini adalah dari teks aslinya "aphrones" dalam bahasa Inggris diterjemahkan "foolish" (Band. Bebal – asofoi - unwise). Kata "aphrones" ini sebenarnya berarti "tanpa alasan" hendak menunjuk kepada kehendak yang ngawur. Kata ini juga berarti menunjuk 2 hal penting:

Apa yang dilakukan oleh manusia pada hakekatnya adalah proses tiru-meniru. Dari generasi ke generasi proses ini berlangsung secara otomatis. Pola pikir dan tindakan orang pada umumnya mengacu dan berdasar pada apa yang sudah dilakukan oleh orang sebelumnya atau yang mendahuluinya. Ini juga dapat disebut pula sebagai dosa turunan. Salah satu hal yang diwariskan oleh generasi pendahulu kita adalah: membangun citra diri yang yang salah. Orang berjuang untuk menjadi seseorang seperti yang diidolakannya.

Berita Terbaru

Podcast Terbaru