GBI Rehobot adalah Sekolah Alkitab
Kebangunan rohani yang melanda gereja-gereja Tuhan di Indonesia dua dasawarsa belakangan ini, telah menghasilkan banyak persekutuan doa. Persekutuan-persekutuan doa tersebut tidak sedikit yang terkristal menjadi gereja yang bernaung di salah satu sinode gereja. Dengan demikian jumlah gereja yang baru semakin bertambah banyak. Sisi lain dari gelora semangat Kristiani yang mewabah di kalangan gereja-gereja aliran Pentakosta-Karismatik membuahkan tren membangun sidang jemaat di gedung-gedung pertemuan. Hal ini memberi kesan membuat gereja itu mudah, sehingga sekarang ini terdapat kenyataan orang berlomba membangun gereja baru di gedung-gedung pertemuan. Bermodal uang, relasi pendeta kalau bisa “pendeta top” dan seperangkat pengurus yang mempersiapkan liturgi atau kebaktian gereja, jadilah sebuah gereja baru. Dampak negatif yang bisa muncul adalah banyak orang tidak mengerti apa sebenarnya gereja itu, muatan misi dan visi apakah yang dibawa oleh gereja sebagai mandat dari Tuhan Sang Pendiri dan Pemilik Gereja.
Gereja berasal dari kata igreya dalam bahasa Portugis, yang memiliki keterkaitan dengan kata ekklêsia dalam bahasa Yunani yang artinya “dipanggil ke luar”. Kata ekklêsia ini sebenarnya gabungan dua kata ek dan kaleô, ek artinya keluar dan kaleô artinya dipanggi atau memanggil. Secara etimologi kata gereja dalam arti sempit yaitu “dipanggil keluar” – maksudnya keluar dari dunia, yaitu pola kehidupan orang-orang yang tidak mengenal kebenaran Tuhan. Secara luas, gereja artinya persekutuan orang percaya kepada Yesus yang dipanggil untuk meninggalkan pola hidup anak-anak dunia untuk mengenakan kebenaran Tuhan. Kita harus mengerti muatan misi dan visi apakah yang seharusnya dibawa oieh gereja yang oieh karenannya ada persekutuan orang percaya yang melembaga menjadi gereja tersebut.
Bila kita mengamati amanat Agung Tuhan Yesus yang diwariskan kepada orang percaya (Mat 28:18-20), di sini kita menemukan misi dan visi yang seharusnya diemban oieh gereja. Gereja harus mengajarkan segala sesuatu yang diperintahkan Tuhan kepada orang percaya. Pada akhirnya kepada setiap orang percaya Tuhan Yesus bisa berkata: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” (Yoh 20:21). Orang-orang yang sudah mendapat kepercayaan ini akan memperoleh sertifikat dari Bapa: “Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan.” Gereja harus mendidik umat Tuhan ke arah ini. Itulah sebabnya Tuhan melengkapi gereja-Nya dengan orang-orang yang menerima jawatan tertentu, guna pembangunan tubuh Kristus: Dalam Ef 4:11-12 Alkitab mengatakan “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.”
Menjadikan setiap jemaat murid Yesus adalah mutlak. Penyelenggaraan pemuridan harus berlangsung terus. Kata “murid” menurut pengertian umum adalah orang yang sedang berguru dan pada umumnya ditujukan untuk anak-anak. Pengertian umum ini juga dapat dikenakan dalam konteks Injil, tetapi dalam konteks Injil kata murid memiliki pengertian tambahan.
Murid dalam teks bahasa Yunani adalah mathêtês. Dalam Mat 28:19, teks bahasa Indonesia berbunyi: “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Murid di sini adalah kata benda. Dalam teks asli bahasa Yunani, kata murid tidak digunakan sebagai kata benda tetapi kata kerja dan kalimatnya berbentuk imperatif: “Poreuthentes oun mathêteusate panta ta ethnê.” Kata murid dalam bahasa Indonesia sebenarnya pengambilalihan dari kata mathêteusate, “muridkanlah”. Terdapat perbedaan yang sangat tipis antara bahasa Yunani dan bahasa Indonesia. Oleh karena dalam bahasa Indonesia kata murid berbentuk kata benda, maka secara tidak sadar, orang memberi isi “murid” sekedar sebagai status. Walau sebenarnya secara langsung kata murid sudah harus menunjuk kepada status yang memiliki tanggung jawab dan hak. Status pada umumnya memiliki unsur tanggung jawab dan hak. Dalam teks bahasa Yunani, kata murid berbentuk imperatif (mathêteusate). Kata mathêteusate yang lebih tepat diterjemahkan “muridkanlah” lebih menunjukkan bahwa hal menjadi murid Tuhan tidak sekadar sebuah status atau identitas yang karenanya seseorang memperoleh berbagai hak; tetapi hal menjadi murid menunjuk kepada suatu proses, kegiatan dan gerak hidup. Sebagai murid, memiliki hak untuk menerima pengajaran dan didikan dan sebagai murid harus menerima ajaran dan didikan dengan patuh.
Pada umumnya anggapan kebanyakan orang-orang kristen menjadi murid sekedar sebuah status atau identitas. Kalaupun predikat murid ini dikaitkan dengan sesuatu yang lain, maka pada umumnya orang Kristen suka mengkaitkan dengan “hak”. Murid Tuhan memiliki hak, yaitu diberkati, dipelihara dan memperoleh apa yang menyenangkan menurut selera manusia. Pola pikir ini tidak menantang orang Kristen untuk belajar, bertumbuh dan bergumul menjadi dewasa. Penting sekali untuk menekankan kenyataan bahwa hal menjadi murid adalah sebuah proses, sebuah kegiatan gerak hidup. Bila sungguh demikian maka kekristenan menjadi jalan hidup. Dalam Alkitab seringkali dipaparkan tentang kehidupan kekristenan yang adalah sebuah proses.
Dewasa ini terdapat gereja-gereja yang tidak mengerti panggilanNya, yaitu panggilan untuk melaksanakan amanat agung Tuhan Yesus: memuridkan segala bangsa. Gereja-gereja ini sibuk dengan segala kegiatan gerejani yang kelihatannya aktif dan rohani, bertendensi kepada pekerjaan Tuhan, tetapi sebenarnya telah luncas. Gereja-gereja tersebut tidak melaksanakan pekerjaan Tuhan, tetapi melaksanakan pekerjaannya sendiri dengan visi-visi gerejani yang tidak membawa jemaat kepada proyek pemuridan. Dengan kegiatan-kegiatan gerejani tersebut, gereja semakin berwarna duniawi dan agamawi.
Kegiatan-kegiatan tersebut telah membuat jemaat dan aktivisnya tenggelam ke dalam berbagai kesibukan yang sia-sia dan kelelahan yang percuma. Tentu saja sebagai akibatnya, proses pemuridan tidak terselenggara sebagaimana mestinya. Akhirnya kekristenan semacam itu membuat orang Kristen jenuh dengan gereja. Yang membedakan gereja yang benar dengan agama di luar gereja adalah pemuridan ini. Bukan pada kegiatan-kegiatan keberagamaannya, bukan pula pada syariat-syariat lahiriahnya, sebab hal-hal yang bernilai agamawi dimiliki semua agama pada umumnya. Tetapi proses pemuridan oleh Tuhan Yesus dan dengan cara Tuhan Yesus hanya ada di dalam kekristenan yang sejati. Proses inilah yang menjadikan gereja akan semakin cemerlang dan semakin berbeda dengan dunia ini.
Gereja harus menyelenggarakan proses tersebut, bukan hanya “mengumpulkan massa”, bahkan tidak jarang hanya memindahkan jemaat dari satu gereja masuk gerejanya, lalu diakui sebagai anggotanya dan “diperas uangnya”. Memang “perpindahan jemaat” tidak bisa dihindari tetapi hendaknya jemaat yang datang ke gereja kita dibawa kepada segala kebenaran Tuhan. Banyak gereja setelah massa dikumpulkan mereka hanya mengajar jemaat untuk “berliturgi” dengan liturgi yang dipromosikan sebagai “lebih dihadiri Roh Kudus, lebih memberi kebangunan rohani, lebih berkuasa, lebih mendatangkan berkat materi dan kesembuhan” dll., tetapi jemaat tidak mengerti kebenaran Alkitab. Dalam tingkat tertentu ini bisa merupakan penyesatan terselubung dalam gereja. Tidak sedikit “gereja baru” ini hanya mengumpulkan massa tanpa memberi pelayanan pastoral yang memadai. Kalaupun ada tenaga pastolanya orang-orang yang belum terlatih melayani partoral ini. Sementara “uang Tuhan” yaitu persembahan kolekte dari jemaat tidak dikelola secara transparan dan jujur dengan manajemen yang profesional. Pada akhirnya bisa diterima kalau ada suara bahwa banyak pelayanan hanya bertendensi “mencari uang”. Uang Tuhan adalah milik Tuhan yang harus dikembalikan bagi kepentingan perkembangan “kerajaan Allah”. Bukan untuk rumah, villa, mobil, perhiasan dan fasilitas keluarga pendeta semata. Untuk ini perlunya disusun staf pengelola keuangan dalam gereja yang terdiri dari orang-orang yang takut akan Tuhan, berjiwa melayani, dewasa rohani dan mengerti pembukuan.
Sejarah Rehobot Ministry
Sejak 1987 Pdt. Erastus Sabdono, M.Th. yang menggembalakan jemaat Tuhan di Gereja Bethel Indonesia Rehobot, Jl. Sarinah I/7 Jakarta Selatan, belajar bagaimana menyelenggarakan gereja sesuai dengan pola Alkitab. Karena lokasi gereja tidak cukup menunjang, maka dengan sukacita dan rela Pdt. Erastus Sabdono membagikan kebenaran Firman Tuhan ke berbagai gereja guna menyingkapkan kebenaran Allah yang mendewasakan jemaat. Sampai pada suatu saat, yaitu mulai pertengahan tahun 2000, harus membangun atau meyelenggarakan kebaktian di beberapa tempat. Hal ini bukan dimaksudkan untuk menyaingi gereja lain, turut berkonkurensi atau berkompetisi memindahkan jemaat gereja lain ke kandang Rehobot; tetapi Rehobot Ministry hendak menjawab kebutuhan banyak orang Kristen yang sudah keluar dari hidup agamawinya yaitu tidak menjadikan Kekristenannya sekedar agama, tetapi jalan hidup. Mereka yang sudah selalu membutuhkan makanan keras bukan lagi susu.
Untuk itu pelayan Firman yang diundang untuk berkhotbah di Rehobot bukan hanya mereka yang “memiliki nama yang kondang” sebagai pengkhotbah yang laris di pasaran, tetapi mereka yang “mengerti apa yang Yesus Ajarkan”. Estafet pengajaran yang harus diteruskan kepada jemaat harus terselenggara. Jemaat bukan hanya diiming-imingi dengan “berkat fisik yang fana”. Jemaat haras mulai mengerti kebenaran yang membawa jemaat “benar-benar siap ke surga” dan menjadi peiayan-pelayan Tuhan yang dewasa.
Visi
Visi Rehobot lahir dari kebutuhan mendesak gereja Tuhan dewasa ini yaitu: Membangun Umat Kerajaan Surga Dalam Kebenaran. Umat dibangun menjadi warga Kerajaan Surga yang baik, ini sesuai dengan perintah Tuhan: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya.” Kehidupan rohani umat yang harus diperhatikan. Tuhan Yesus berkata: “... di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” (Mat 16:18) Jemaat milik Tuhan, tetapi kita harus mengasihi dan merasa memiliki demi pertumbuhan iman dan kedewasaan mereka. Kebenaran yang dimaksud diatas adalah Firman Tuhan (Yoh 17:17).
Gereja harus dilengkapi dengan pelayan-pelayan Firman. Bukan pelayan ide atau pikiran serta pengalaman pribadinya. Iman timbul dari pendengaran, pendengaran oleh Firman Tuhan (Rm 10:17). Untuk itu yang dibutuhkan adalah Firman yang dapat membangun iman. Jemaat harus tekun belajar kebenaran Firman Tuhan dan bersungguh-sungguh dalam pengiringan kepada Yesus.
Pada akhirnya jemaat dijumpai tidak bercacat dan tidak bercela di hadapan-Nya. Kita percaya kalau Rehobot adalah pekerjaan Tuhan, maka Tuhan akan mengawal gereja-Nya. Bukan oleh karena cakapnya gembala sidang dan stafnya, tetapi oleh kekuatan Tuhan. Untuk mencapai target ini setiap pekerja harus bersatu, rukun saling mengasihi, mendukung dalam pelayanan dan saling mempercayai. Setiap pekerja harus memiliki penaklukan diri kepada pimpinan di atasnya.
Misi
Misi GBI Rehobot adalah melaksanakan amanat Agung Tuhan Yesus Kristus, yaitu Mengajarkan kebenaran Tuhan kepada jemaat, sehingga setiap individu dalam jemaat benar-benar bukan hanya sebagai orang Kristen, tetapi pelayan Tuhan.
Sudah saatnya kita merobohkan tembok pemisah gereja dan dunia, ibadah dan kerja sekuler, imam dan awam. Hamba Tuhan dan jemaat, sebab kita semua seharusnya menjadi hamba Tuhan. Ibadah kita adalah seluas dunia ini dalam segala aktivitas kita dan jam kebaktian kita adalah seluruh waktu hidup ini. Jemaat harus diajar kebenaran ini.
Lokasi
Lihat daftar lokasi Sekretariat Wilayah Rehobot Ministry.
Rekening Bank
- Operasional Pusat: BCA Sunter Danau, Ac. No. 419-309-7777 a.n. GBI Jemaat Rehobot
- Diakonia: BCA Sunter Danau, Ac. No. 419-303-3400 a.n. GBI Jemaat Rehobot
- Pembangunan: BCA Sunter Danau, Ac. No. 419-303-5500 a.n. GBI Jemaat Rehobot

Bagi para anggota jemaat Rehobot Ministry, sudahkah Anda memiliki kartu anggota Rehobot? 